⚠️Ini tugasku yang berharga, kamu bisa menjadikannya bahan belajarmu. Hanya saja, tolong jangan mencurinya⚠️
***
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu linguistik dibagi menjadi beberapa cabang bidang khusus, salah
satunya adalah cabang morfologi. Morfologi merupakan pengetahun dasar yang
wajib dipahami dan diketahui oleh setiap orang yang mempelajari suatu bahasa.
Khususnya, dalam bahasa Indonesia peranan morfologi dalam studi bahasa
sangatlah penting karena seperti yang kita ketahui sistem bahasa Indonesia
termasuk aglutinate language. Sistem
aglutinasi adalah sistem bahasa yang pada proses pembentukan unsur-unsurnya
dilakukan dengan cara menempelkan unsur atau pembentuk lainnya (Putrayasa,
2008: 5). Kata morfologi sendiri diadaptasi dari bahasa Inggris, ”morphology”. Secara etimologi dari kata
“morf” yang berarti bentuk dan kata “logi” yang artinya ilmu.
Menurut Verhaar, morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang
membicarakan atau mempelajari seluk beluk struktur kata serta pengaruh
perubahan-perubahan struktur kata terhadap kelas kata dan arti kata. Morfologi
mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal
(Putrayasa, 2008: 3). Oleh sebab itu lah, dalam morfologi dikenal dengan
istilah morfem yaitu satuan gramatikal terkecil yang bermakna. Morfem
ini dapat berupa dasar (kata) ataupun afiks. Secara independen, setiap kiata
memilki makna leksikal dan dalam kedudukannya pada satuan ujaran memiliki makna
gramatikal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kategori gramatikal?
2. Bagaimana kategori gramatikal dalam bahasa Indonesia?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kategori gramatikal.
2. Mampu
memahami kategori gramatikal dalam bahasa Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Kategori Gramatikal
Kategori gramatikal adalah golongan
satuan bahasa yang dibedakan atas bentuk, fungsi, dan makna seperti kelas kata,
jenis, kasus, kata, dan lain-lain. (Kridalaksana, 1982). Tata bahasa Indonesia banyak pendapat para mengenai jumlah dan jenis
kelas kata. Kelas kata terdiri dari seperangkat kategori gramatikal yang
tersusun dalam kerangka sistem tertentu yang berbeda dan sistem kategori
gramatikal kelas kata lain. Kategori gramatikal adalah sederetan kata yang
memiliki bentuk gramatikal dan makna gramatikal yang sama. Setiap kategori
gramatikal itu terbentuk oleh proses morfologis tertentu. Kategori gramatikal
menurut para ahli bahasa memiliki beberapa versi yang berbeda-beda. Namun,
secara garis besar kategori gramatikal yang paling banyak disebutkan antara
lain; verba, nomina, numeralia, adjektiva, dan adverbia.
2.2 Kategori Gramatikal dalam
bahasa Indonesia
1.
Verba
Sebuah kata
dapat dikatakan berkategori verba hanya dari perilakunya dalam frase, yakni
dalam hal kemungkinannya satuan itu didampingi partikel tidak dalam konstruksi
dan dalam hal tidak dapat didampinginya satuan itu dangan partikel di, ke,
dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Secara umum verba
dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain, karena
ciri-ciri berikut;
a. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat
atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi
lain.
b. Verba
mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses atau keadaan yang bukan sifat
atau kualitas.
c. Verba,
khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti
“paling”.
d. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang
menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar, sangat
pergi, dan bekerja sekali.
VERBA
DARI SEGI BENTUKNYA
1. Verba Asal
Verba asal ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks.
Contoh: ada, bangun, cinta, gugur, hancur, hidup, dating, paham, pecah.
2. Verba Turunan
a. Pengafiksan
adalah penambahan afiks pada dasar.
Contoh: membeli, mendarat, bertemu, bersepeda.
b. Reduplikasi adalah
pengulangan suatu dasar.
Contoh: lari-lari, makan-makan, tembak-menembak, mereka-reka.
c. Pemajemukan
adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna.
Contoh: jual beli, jatuh bangun, salah sangka, salah
hitung, hancur lebur.
2.
Nomina
Nomina sering
juga disebut kata benda. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri
tertentu.
a. Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung
menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.
b.
Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan
diantarai oleh kata yang.
NOMINA
DARI SEGI BENTUKNYA
1. Nomina Dasar
Nomina dasar
adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem.
Contoh: gambar, meja, rumah, malam, minggu.
2. Nomina Turunan
a. Afiksasi
nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu
pada kata dasar. Ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina:
1. ke-
contoh: ketua, kehendak, kekasih dan kerangka.
2. pel-, per-,
dan pe-
contoh: pelajar, pertapa, persegi, petani, perdagangan.
3. peng-
a. orang atau hal yang melakukan perbuatan yang dinyatakan
oleh verba. Contoh: pembeli, pendobrak,
pengawas, pemilih, pengirim, pengetes.
b. orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan yang
dinyatakan oleh verba. Contoh: penyanyi, pelaut, pemulung, pengemis, penyiar.
c. orang yang memiliki sifat yang dinyatakan oleh adjektiva
dasarnya. Contoh: pemarah, penakut, pelupa, pemalas, periang.
d.
alat untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh verba. Contoh: penggali,
penghapus, pembersih, pendorong, penopang.
4. –an
a. hasil tindakan atau sesuatu yang dinyatakan oleh verba.
Contoh: anjuran, kiriman, asinan, kiloan.
b. Makna lokasi. Contoh: tepian, belokan, awalan, akhiran.
c. Waktu yang berkala. Contoh: harian, mingguan, bulanan,
tahunan.
d. Buah-buahan. Contoh: durian, rambutan.
e. Kumpulan dari nomina. Contoh: sayuran, lautan.
5. peng-an
a. perbuatan yang
dinyatakan oleh verba. Contoh: pemberontakan, pendaftaran, pengunduran,
penyajian, pelampiasan.
b. hasil perbuatan;
hal yang dinyatakan verba. Contoh: pengakuan, penghargaan, penyelesaian,
pengumuman, pemberitaan.
c. maknanya unik sehingga
harus ditentukan sendiri-sendiri. Contoh: pendirian, pendapatan, pemandangan,
pendengaran.
6. per-an
a. diturunkan dari verba intransitif dan berawalan ber-.
Contoh: perjanjian, pergerakan, perjalanan, pertemuan, perpindahan.
b. Berkaitan dengan verba
meng- atau memper- yang berstatus transitif. Contoh: perlawanan, permintaan,
percobaan, pergelaran, perjuangan.
c. Hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba.
Contoh: pergerakan, perdagangan, pertanian, perjuangan.
d. Perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh:
perkelahian, perzinaan, percakapan,ercobaan, perlawanan.
e. Hal yang berkaitan dengan kata dasar. Contoh: perikanan,
perkapalan, perbukuan, perburuhan, persuratkabaran.
f. Tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar. Contoh: perapian,
perkotaan, perkampungan, perkemahan, perguruan.
7. ke-an
a. hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan
verba. Contoh: kepergian, kedatangan, kehadiran, keberangkatan, keputusan,
ketetapan.
b. Hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan
adjektiva. Contoh: kekosongan, keberanian, kebimbangan, kemalasan, kekecewaan.
c. Keabstrakan. Contoh:
kebangsaan, kemanusiaan, kerakyatan, kekeluargaan.
d. Kantor atau wilayah kekuasaan. Contoh: kedutaan, kelurahan,
kecamatan.
b. Perulangan
atau reduplikasi adalah proses penurunan kata dengan perulangan, baik secara
utuh maupun secara sebagian.
a. Makna Keanekaan.
Contoh: coret-coret, desas-desus, warna-warni, teka-teki.
b. Makna
Kekolektifan.
Contoh:
dedaunan, pepohonan, biji-bijian, daun-daunan.
c. Makna
Kemiripan Rupa.
Contoh:
bapak-bapak, kakek-kakek, mata-mata, kuda-kuda, jari-jari.
d. Makna
Kemiripan Cara.
Contoh: kucing-kucingan, kekanak-kanakan, kegila-gilaan.
3. Numeralia
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya
(orang, binatang, atau barang) dan konsep. Numeralia adalah kategori yang
dapat; (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi
untuk mendamping numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan tidak
atau dengan sangat.
1. Numeralia pokok tentu,
Mengacu pada bilangan pokok, yakni 0 sampai 9. Contoh :
7.859 = Tujuh ribu delapan ratus lima puluh sembilan. Dalam bahasa Indonesia
baku, numeralia pokok ditempatkan di muka nomina dan dapat diselingi oleh kata
penggolong seperti orang, ekor, dan buah. Contoh: majalah kami memerlukan tiga
orang penyunting, pak hasan mempunyai dua ekor burung merak.
2. Numeralia pokok kolektif,
Dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan dimuka nomina yang
diperankan. Contoh: ketiga pemain, kedua gedung, kesepuluh anggota. Jika tidak
diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan -nya.
Contoh: kedua-duanya, ketiga-tiganya.
Numeralia kolektif dibentuk dengan cara:
1. Penambahan prefiks ber- atau se- pada nomina tertentu setelah
numeralia. Contoh: tiga bersaudara, empat beranak, tiga sekawan, tiga
serangkai, dua sejoli.
2. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya
diletakkan sesudah pronominal persona. Contoh: (kamu) berlima, (kami) berenam.
3 Pemakain numeralia yang berprefiks ber- dan yang diulang. Contoh:
beribu- ribu, berjuta-juta.
4. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks –an. Contoh:
puluhan, ratusan.
3. Numeralia pokok distributif,
Dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya
ialah ‘demi’ dan ‘masing-masing’. Contoh: satu-satu, dua-dua.
4. Numeralia pokok tak tentu,
Mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia
ini tidak dapat menjadi jawaban atas peranyaan yang memakai kata tanya berapa,
ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya. Contoh: banyak orang, berbagai
masalah, sedikit air, semua jawaban, seluruh rakyat, segala penjuru.
5. Numeralia ukuran.
Contoh: lusin, kodi, meter, liter, atau gram.
4.
Adjektiva
Adjektiva ialah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus
tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.
Adjektiva ditandai oleh kemungkinannya untuk;
(1) mendampingi nomina, atau (2) didampingi partikel
seperti lebih, sangat, agak, (3) mempunyai ciri – ciri morfologis, seperti –er-
(dalam honorer), -if (dalam sensitif ), -i (dalam alami), atau (4) dibentuk
menjadi nomina dengan konfiks ke-an, seperti adil – keadilan, halus –
kehalusan, yakin – keyakinan (ciri terakhir ini berlaku bagi sebagian besar
adjektiva dasar dan bisa menandai verba intransitif, jadi ada tumpang tindih di
antaranya)
ADJEKTIVA
DARI SEGI BENTUKNYA
1. Adjektiva Dasar
(Monomorfemis)
Contoh: besar, merah, bundar, pura-pura, hati-hati.
2. Adjektiva Turunan
a. Hasil
pengafiksan tentang tingkat ekuatif dengan prefiks se-, tingkat superlatif
dengan prefiks ter-
b. Hasil
pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang
jumlahnya sangat terbatas. Contoh: gemetar, gemuruh, gemerlap, temaram,
sinambung.
c. Hasil penyerapan
adjektiva berafiks dari bahasa lain seperti bahasa Arab, Belanda, dan Inggris.
Contoh: alami, alamiah, insani, aktif , agresif.
5. Adverbia
Dalam tataran frasa, adverbia adalah kata yang menjelaskan
verba, adjektiva, atau adverbia lain. Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan
keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori; sedangkan keterangan
merupakan konsep fungsi.
ADVERBIA
DARI SEGI BENTUKNYA
Adverbia Tunggal
a. Adverbia yang
berupa kata dasar, hanya terdiri atas satu kata dasar. Contoh: baru, hanya,
lebih, hampir, saja, sangat.
b. Adverbia yang
berupa kata berafiks, diperoleh dengan menambahkan gabungan afiks se—nya atau
afiks –nya pada kata dasar. Contoh: sebaiknya, sesungguhnya, agaknya, rupanya,
rasanya.
c. Adverbial yang
berupa kata ulang
Adverbia yang berupa
pengulangan kata dasar. Contoh: diam-diam, lekas-lekas, pela-pelan,
tinggi-tinggi, lagi-lagi.
Adverbia yang berupa
pengulangan kata dasar dengan penambahan prefiks se-. Contoh: setinggi-tinggi,
sepandai-pandai, sebesar-besar, sesabar-sabar, segalak-galak.
Adverbia yang berupa
pengulangan kata dasar dengan penambahah sufiks –an. Contoh: hais-habisan,
mati-matian, kecil-kecilan, gila-gilaan, gelap-gelapan.
Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan
gabungan afiks se—nya. Contoh: setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya,
seikhlas-ikhlasnya, sekuat-kuatnya, selembut-lembutnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kategori gramatikal adalah sederetan kata yang memiliki bentuk
gramatikal dan makna gramatikal yang sama. Setiap kategori gramatikal itu
terbentuk oleh proses morfologis tertentu. Kelompok kami menemukan lima
kategori gramatikal antara lain: verba, nomina, numeralia, adjektiva, dan
adverbia.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, A. (2008). Morfologi
Bahasa Indonesia (pendekatan proses). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Kridalaksana,
H. (1992). Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama .
Putrayasa,
I. B. (2008). Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan Infleksional) .
Bandung: PT. Refika Aditama.
https://uendy.wordpress.com/2008/11/27/pembagian-kelas-kata-dalam-bahasa-indonesia/ (Diakses pada 12 Maret 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar