Senin, 18 Februari 2019

Kategori Gramatikal

⚠️Ini tugasku yang berharga, kamu bisa menjadikannya bahan belajarmu. Hanya saja, tolong jangan mencurinya⚠️

***
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu linguistik dibagi menjadi beberapa cabang bidang khusus, salah satunya adalah cabang morfologi. Morfologi merupakan pengetahun dasar yang wajib dipahami dan diketahui oleh setiap orang yang mempelajari suatu bahasa. Khususnya, dalam bahasa Indonesia peranan morfologi dalam studi bahasa sangatlah penting karena seperti yang kita ketahui sistem bahasa Indonesia termasuk aglutinate language. Sistem aglutinasi adalah sistem bahasa yang pada proses pembentukan unsur-unsurnya dilakukan dengan cara menempelkan unsur atau pembentuk lainnya (Putrayasa, 2008: 5). Kata morfologi sendiri diadaptasi dari bahasa Inggris, ”morphology”. Secara etimologi dari kata “morf” yang berarti bentuk dan kata “logi” yang artinya ilmu.
Menurut Verhaar, morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk struktur kata serta pengaruh perubahan-perubahan struktur kata terhadap kelas kata dan arti kata. Morfologi mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal (Putrayasa, 2008: 3). Oleh sebab itu lah, dalam morfologi dikenal dengan istilah morfem yaitu satuan gramatikal terkecil yang bermakna. Morfem ini dapat berupa dasar (kata) ataupun afiks. Secara independen, setiap kiata memilki makna leksikal dan dalam kedudukannya pada satuan ujaran memiliki makna gramatikal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kategori gramatikal?
2. Bagaimana kategori gramatikal dalam bahasa Indonesia?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kategori gramatikal.
2. Mampu memahami kategori gramatikal dalam bahasa Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kategori Gramatikal
Kategori gramatikal adalah golongan satuan bahasa yang dibedakan atas bentuk, fungsi, dan makna seperti kelas kata, jenis, kasus, kata, dan lain-lain. (Kridalaksana, 1982). Tata bahasa Indonesia banyak pendapat para mengenai jumlah dan jenis kelas kata. Kelas kata terdiri dari seperangkat kategori gramatikal yang tersusun dalam kerangka sistem tertentu yang berbeda dan sistem kategori gramatikal kelas kata lain. Kategori gramatikal adalah sederetan kata yang memiliki bentuk gramatikal dan makna gramatikal yang sama. Setiap kategori gramatikal itu terbentuk oleh proses morfologis tertentu. Kategori gramatikal menurut para ahli bahasa memiliki beberapa versi yang berbeda-beda. Namun, secara garis besar kategori gramatikal yang paling banyak disebutkan antara lain; verba, nomina, numeralia, adjektiva, dan adverbia.
2.2 Kategori Gramatikal dalam bahasa Indonesia
1. Verba
Sebuah kata dapat dikatakan berkategori verba hanya dari perilakunya dalam frase, yakni dalam hal kemungkinannya satuan itu didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan dalam hal tidak dapat didampinginya satuan itu dangan partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Secara umum verba dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain, karena ciri-ciri berikut;
a.   Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain.
b.    Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
c.    Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti “paling”.
d. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar, sangat pergi, dan bekerja sekali.
VERBA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Verba Asal
Verba asal ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. Contoh: ada, bangun, cinta, gugur, hancur, hidup, dating, paham, pecah.
2. Verba Turunan
a.     Pengafiksan adalah penambahan afiks pada dasar.
Contoh: membeli, mendarat, bertemu, bersepeda.
b.     Reduplikasi adalah pengulangan suatu dasar.
Contoh: lari-lari, makan-makan,  tembak-menembak, mereka-reka.
c.   Pemajemukan adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih   sehingga menjadi satu satuan makna.
Contoh: jual beli, jatuh bangun, salah sangka, salah hitung, hancur lebur.
2. Nomina
Nomina sering juga disebut kata benda. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri tertentu.
a. Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.
b. Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.
NOMINA DARI SEGI BENTUKNYA
1.     Nomina Dasar
Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem.
Contoh: gambar, meja, rumah, malam, minggu.
2.    Nomina Turunan
a.     Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina:
1. ke-
contoh: ketua, kehendak, kekasih dan kerangka.
2. pel-, per-, dan pe-
contoh: pelajar, pertapa, persegi, petani, perdagangan.
3. peng-
a. orang atau hal yang melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh verba.  Contoh: pembeli, pendobrak, pengawas, pemilih, pengirim, pengetes.
b. orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: penyanyi, pelaut, pemulung, pengemis, penyiar.
c. orang yang memiliki sifat yang dinyatakan oleh adjektiva dasarnya. Contoh: pemarah, penakut, pelupa, pemalas, periang.
d. alat untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh verba. Contoh: penggali, penghapus, pembersih, pendorong, penopang.
4. –an
a. hasil tindakan atau sesuatu yang dinyatakan oleh verba. Contoh: anjuran, kiriman, asinan, kiloan.
b. Makna lokasi. Contoh: tepian, belokan, awalan, akhiran.
c. Waktu yang berkala. Contoh: harian, mingguan, bulanan, tahunan.
d. Buah-buahan. Contoh: durian, rambutan.
e. Kumpulan dari nomina. Contoh: sayuran, lautan.
5. peng-an
a.  perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pemberontakan, pendaftaran, pengunduran, penyajian, pelampiasan.
b.  hasil perbuatan; hal yang dinyatakan verba. Contoh: pengakuan, penghargaan, penyelesaian, pengumuman, pemberitaan.
c.  maknanya unik sehingga harus ditentukan sendiri-sendiri. Contoh: pendirian, pendapatan, pemandangan, pendengaran.
6. per-an
a. diturunkan dari verba intransitif dan berawalan ber-. Contoh: perjanjian, pergerakan, perjalanan, pertemuan, perpindahan.
b. Berkaitan dengan verba meng- atau memper- yang berstatus transitif. Contoh: perlawanan, permintaan, percobaan, pergelaran, perjuangan.
c. Hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pergerakan, perdagangan, pertanian, perjuangan.
d. Perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: perkelahian, perzinaan, percakapan,ercobaan, perlawanan.
e. Hal yang berkaitan dengan kata dasar. Contoh: perikanan, perkapalan, perbukuan, perburuhan, persuratkabaran.
f. Tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar. Contoh: perapian, perkotaan, perkampungan, perkemahan, perguruan.
7. ke-an
a. hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan verba. Contoh: kepergian, kedatangan, kehadiran, keberangkatan, keputusan, ketetapan.
b. Hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan adjektiva. Contoh: kekosongan, keberanian, kebimbangan, kemalasan, kekecewaan.
c. Keabstrakan. Contoh: kebangsaan, kemanusiaan, kerakyatan, kekeluargaan.
d. Kantor atau wilayah kekuasaan. Contoh: kedutaan, kelurahan, kecamatan.
b.      Perulangan atau reduplikasi adalah proses penurunan kata dengan perulangan, baik secara utuh maupun secara sebagian.
a. Makna Keanekaan.
Contoh: coret-coret, desas-desus, warna-warni, teka-teki.
b. Makna Kekolektifan.
Contoh: dedaunan, pepohonan, biji-bijian, daun-daunan.
c. Makna Kemiripan Rupa.
Contoh: bapak-bapak, kakek-kakek, mata-mata, kuda-kuda, jari-jari.
d. Makna Kemiripan Cara.
Contoh: kucing-kucingan, kekanak-kanakan, kegila-gilaan.
3. Numeralia
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Numeralia adalah kategori yang dapat; (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi untuk mendamping numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat.
1. Numeralia pokok tentu,
Mengacu pada bilangan pokok, yakni 0 sampai 9. Contoh : 7.859 = Tujuh ribu delapan ratus lima puluh sembilan. Dalam bahasa Indonesia baku, numeralia pokok ditempatkan di muka nomina dan dapat diselingi oleh kata penggolong seperti orang, ekor, dan buah. Contoh: majalah kami memerlukan tiga orang penyunting, pak hasan mempunyai dua ekor burung merak.
2. Numeralia pokok kolektif,
Dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan dimuka nomina yang diperankan. Contoh: ketiga pemain, kedua gedung, kesepuluh anggota. Jika tidak diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan -nya. Contoh: kedua-duanya, ketiga-tiganya.
Numeralia kolektif dibentuk dengan cara:
1. Penambahan prefiks ber- atau se- pada nomina tertentu setelah numeralia. Contoh: tiga bersaudara, empat beranak, tiga sekawan, tiga serangkai, dua sejoli.
2. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sesudah pronominal persona. Contoh: (kamu) berlima, (kami) berenam.
3 Pemakain numeralia yang berprefiks ber- dan yang diulang. Contoh: beribu- ribu, berjuta-juta.
4. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks –an. Contoh: puluhan, ratusan.
3. Numeralia pokok distributif,
Dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya ialah ‘demi’ dan ‘masing-masing’. Contoh: satu-satu, dua-dua.
4. Numeralia pokok tak tentu,
Mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat menjadi jawaban atas peranyaan yang memakai kata tanya berapa, ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya. Contoh: banyak orang, berbagai masalah, sedikit air, semua jawaban, seluruh rakyat, segala penjuru.
5. Numeralia ukuran.
Contoh: lusin, kodi, meter, liter, atau gram.
4. Adjektiva
Adjektiva ialah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.
Adjektiva ditandai oleh kemungkinannya untuk;
(1) mendampingi nomina, atau (2) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, (3) mempunyai ciri – ciri morfologis, seperti –er- (dalam honorer), -if (dalam sensitif ), -i (dalam alami), atau (4) dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an, seperti adil – keadilan, halus – kehalusan, yakin – keyakinan (ciri terakhir ini berlaku bagi sebagian besar adjektiva dasar dan bisa menandai verba intransitif, jadi ada tumpang tindih di antaranya)
ADJEKTIVA DARI SEGI BENTUKNYA
1.     Adjektiva Dasar (Monomorfemis)
Contoh: besar, merah, bundar, pura-pura, hati-hati.
2.      Adjektiva Turunan
a.     Hasil pengafiksan tentang tingkat ekuatif dengan prefiks se-, tingkat superlatif dengan prefiks ter-
b.     Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas. Contoh: gemetar, gemuruh, gemerlap, temaram, sinambung.
c.     Hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain seperti bahasa Arab, Belanda, dan Inggris. Contoh: alami, alamiah, insani, aktif , agresif.
5. Adverbia
Dalam tataran frasa, adverbia adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori; sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi.
ADVERBIA DARI SEGI BENTUKNYA
Adverbia Tunggal
a.     Adverbia yang berupa kata dasar, hanya terdiri atas satu kata dasar. Contoh: baru, hanya, lebih, hampir, saja, sangat.
b.     Adverbia yang berupa kata berafiks, diperoleh dengan menambahkan gabungan afiks se—nya atau afiks –nya pada kata dasar. Contoh: sebaiknya, sesungguhnya, agaknya, rupanya, rasanya.
c.     Adverbial yang berupa kata ulang
 Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar. Contoh: diam-diam, lekas-lekas, pela-pelan, tinggi-tinggi, lagi-lagi.
 Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan prefiks se-. Contoh: setinggi-tinggi, sepandai-pandai, sebesar-besar, sesabar-sabar, segalak-galak.
 Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahah sufiks –an. Contoh: hais-habisan, mati-matian, kecil-kecilan, gila-gilaan, gelap-gelapan.
        Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan gabungan afiks se—nya. Contoh: setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya, sekuat-kuatnya, selembut-lembutnya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kategori gramatikal adalah sederetan kata yang memiliki bentuk gramatikal dan makna gramatikal yang sama. Setiap kategori gramatikal itu terbentuk oleh proses morfologis tertentu. Kelompok kami menemukan lima kategori gramatikal antara lain: verba, nomina, numeralia, adjektiva, dan adverbia.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, A. (2008). Morfologi Bahasa Indonesia (pendekatan proses). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (1992). Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama .
Putrayasa, I. B. (2008). Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan Infleksional) . Bandung: PT. Refika Aditama.
https://uendy.wordpress.com/2008/11/27/pembagian-kelas-kata-dalam-bahasa-indonesia/  (Diakses pada 12 Maret 2016)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar